Mimpi

oleh : Afiyatuz Zahroh

Aku melihatnya. Aku merasakannya. Mataku mengerjap beberapa kali menyesuaikan cahaya remang-remang di dalam kamarku. Pikiranku begitu kacau mengingat suatu kejadian yang menimpaku beberapa menit lalu. Aku ditarik menjauh dari ragaku yang sedang memejamkan mata. Terjatuh dalam ilusi mimpi yang menipu mata, pikiran dan keyakinanku. Sebuah kejadian yang membuat diriku terpukau karenanya, selama beberapa menit layaknya film yang berputar. Sampai pada akhirnya, rohku ditarik kembali secara paksa menuju raga asliku dan berhasil membuat tubuhku tersentak.

Kuceritakan kepada kalian sebuah mimpi yang menjadi bunga tidurku malam itu. Mimpi yang indah menakjubkan tetapi menyembunyikan rahasia besar yang terselip di dalamnya. Dan mungkin akan mengubah takdir masa depanku. Selamanya.

Di tengah gumpalan kabut putih pekat yang memenuhi pandanganku, tanganku mencoba menghempas-hempaskannya, walau aku seperti orang bodoh yang berusaha menyingkirkan gas yang tak dapat kusentuh, tapi setidaknya kabut itu bergulungan meminggir, memberi sedikit celah untukku melihat. Aku menyadari suatu hal. Aku seperti tengah duduk di atas sesuatu yang membuat tubuh diamku melaju ke depan, menabrak kabut gas yang menghalangi pandanganku. Dan, apa ini? Aku merasa punggungku bersandar di sebidang dada. Apa ada orang selain aku di belakang? Aku ragu. Sepasang lengan tangan kekar yang panjang menjulur di kedua sisi tubuhku dan telapaknya bertumpu pada sesuatu di depanku. Tak salah lagi sepasang tangan itu milik orang di belakangku. Aku merasa was-was, jantungku terasa seperti dipompa dengan begitu cepat. Aku tak tahu siapa orang di belakangku, kemana ia akan membawaku, apakah ia akan berniat buruk di suasana bingung yang asing yang tengah menyelimutiku.

Gelisah. Ya, aku merasakannya, sampai tak menyadari jika kabut-kabut itu telah lenyap dari pandangan dan digantikkan dengan pemandangan jernih di depan mata dan hawa sejuk segar. Saat itu juga aku menyadari jika aku tengah menaiki sebuah motor dan sepasang tangan itu memegang kemudinya. Aku dibonceng dari depan. Refleks aku menoleh ke belakang lalu mendongakkan kepala dengan mataku yang menatap lekat kepadanya. Wajah itu, ya tuhan ternyata dia adalah ayahku. Ayah tersenyum kepadaku sembari menenangkan diriku yang sempat ketakutan. Kelegaan langsung mengisi hatiku dan bersyukur jika bukan bahaya yang menemaniku.

Ayah mengajakku berkeliling dengan menaiki motornya. Aku terperangah dengan mulut yang terbuka lebar. Kalian pasti tidak akan percaya dengan sesuatu yang kulihat. Ratusan bangunan menjulang tinggi dengan bentuk seperi istana dan di pucuk atapnya berbentuk kerucut lancip, persis seperti istana taman mini indonesia indah di jakarta. Semua bangunan itu memiliki warna yang berbeda di setiap bagian dan juga antara bangunan satu dengan yang lain. Warnanya begitu mengkilat diterpa cahaya mentari siang. Di halaman depan setiap bangunan diisi dengan kolam renang berbentuk persegi panjang dengan lebar sekitar lima meter. Juga beberapa wahana kecil untuk anak-anak bermain berdiri di atas rumput subur halaman, seperti seluncuran, ayunan dan komedi putar mini. Di setiap sisi bangunan terdapat lampu taman dengan panjang seratus lima puluh sentimeter menghiasinya. Aku sungguh dibuat terpukau dengan pemandangan itu, rasanya seperti berada di negeri dongeng, bagai diantara barisan istana kerajaan. Saat itu aku memang tak sadar jika semua itu hanyalah ilusi yang tercipta dalam mimpiku. Aku berteriak kegirangan kepada ayahku dan memaksa memintanya untuk berkeliling lebih jauh.

Kami melewati jalan yang terbuat dari bebatuan berbentuk pipih berwarna putih dengan dominan kelabu. Lebarnya hanya sekitar seratus sembilan puluh sentimeter dan diapit lautan rumput hijau yang menyegarkan mata.

Aku sadar satu hal, tempat itu sepenuhnya sepi dan tak ada seorang pun yang muncul dihadapan kami. Apa mungkin mereka berada di dalam bangunan-bangunan itu. Ah, kurasa tak mungkin. Jika aku lihat secara seksama dari luar melalui jendela besar bening setiap bangunan, tidak ada aktivitas di dalamnya dan sepertinya tak ada kehidupan. Hanya ruangan kosong melompong. Keadaan ruangan di dalamnya berbanding jauh dengan tampilan luarnya. Kurasa pemilik atau pendiri tempat ini sengaja membiarkannya dalam keadaan tak berpenghuni. Jika benar, maka sungguh sayang sekali. Mereka meninggalkan aset yang berharga hilang ditelan kekosongan dan kesunyian waktu. Jelas, karena ini hanya mimpi yang belum kusadari saat itu. Ayah terus melajukan motornya melalui jalan berbatu. Tak lama ia memberhentikan motor di suatu tempat. Apa itu? Sebuah danau susu putih dengan puluhan biskuit cokelat lebar dan pipih mengambang di atasnya. Juga beberapa angsa yang berenang berbaris di atas danaunya. Jika dilihat, angsa-angsa itu terbuat dari permen marshmallow yang kenyal dan putih. Sontak aku turun dari atas motor tanpa menunggu perintah dari ayah. Kakiku berlari di antara rerumputan basah yang sedikit membasahi sepatuku. Danau susu itu begitu putih dan kental. Bahkan cahaya mentari pun tak mampu menembus airnya. Perlahan kucelupkan tanganku ke dalamnya.

Hangat. Aku menangkupkan kedua tanganku untuk mengambil sedikit air susu itu. Rasanya manis dengan tekstur begitu kental yang melekat erat di tenggorokanku. Tiba-tiba telingaku menangkap suara jeritan ayah yang tengah berlari terburu-buru ke arahku seperti akan menyelamatkanku dari sesuatu yang berbahaya. Tapi terlambat, pohon besar dan lebat di sampingku merengsek jatuh dan menindih tubuhku dengan beban beratnya. Brukkkk……..

Aku terjatuh ke lantai dengan sebuah guling di pelukanku. Aku tersentak dan kaget, mataku mengerjap menyesuaikan cahaya remang lampu tidur yang memenuhi kamarku. Hanya mimpi. Keadaan sekarang di dunia nyata sungguh berbeda dengan mimpi yang baru saja kualami itu. Terbesit dalam pikiranku sesuatu. Aku bangkit berdiri keluar dari kamarku menuju kamar ayah. Sunyi dan hening menyambutku sedari aku bangun dari mimpi itu. Aku lega ayah tengah terlelap tenang di atas ranjangnya. Jam masih menunjukkan pukul 03.15 dini hari. Aku teringat sesuatu jika ayah pernah bercerita tentang suatu mimpi yang pernah dialaminya sewaktu kecil. Mimpi yang hampir mirip dengan mimpi yang baru kualami. Di dalam mimpi ayah, ia bersama dengan kakekku berada diantara puluhan bangunan tinggi. Bedanya jika dalam mimpiku bangunannya mirip istana, maka di mimpi ayah bangunannya berupa gedung-gedung seperti di kota dengan puluhan lantai yang membuatnya menjulang tinggi. Seolah mata tak boleh menggapainya.

Ayah bilang kepadaku jika kita memimpikan hal itu, maka cita- cita yang kita impikan akan terwujud. Ayah bercita-cita menjadi seorang pengusaha yang sukses. Dan itu nyatanya terjadi setelah ayah bermimpi berada diantara bangunan-bangunan itu. Kini, ayah adalah seorang CEO sukses dengan bisnis pertambangan yang mencakup hampir negara-negara di belahan dunia. Jika benar seperti itu, maka cita-cita yang aku impikan selama ini kelak akan terwujud, bukan hanya mimpi hiasan belaka. Kelak aku pasti akan mendapatkannya di masa depan nanti. Pilot. Ya, aku ingin menjadi seorang pilot dan kuharap tuhan memang memberi takdir itu untukku. Semoga hal itu bukan bualan semata, dan tentunya mulai detik ini aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk bekal perjalananku menuju masa depan cerah itu. Ibuku pasti tersenyum bangga kepadaku dari alam sana. Dari sisi tuhan.

Kelak aku akan membuktikan kepada semua orang jika aku mampu berdiri dengan kedua kakiku sendiri di atas puncak kesuksesanku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *