Pelajaran fisika yang saya benci, justru menemani kehidupan saya

Oleh : Muchammad Nizar, M.Pd – Guru Fisika

Pelajaran fisika bagi sebagian siswa SMA di seluruh Indonesia termasuk saya pasti masuk salah satu mapel paling horror diantara daftar mapel yang tidak disukai. Kalau kita membenci pelajaran tertentu pasti menyiksa sekali. Jangankan mau belajar atau mengerjakan soal-soalnya, menyentuh bukunya saja sudah malas, mendengarkan suara langkah guru masuk kelas terasa mengantuk dan tidak bersemangat. Tanpa sadar, rasa benci ini berkembang bertahun-tahun, makin lama makin akut. Sekolah tidak enjoy, jika ada tugas, menyalin pekerjaan temen, ulangan nyontek, jika belajar pun selalu menunda-nunda, karena rasanya terpaksa dan nyiksa sekali. “Ya tapi mau gimana lagi, kalau sudah benci pada pelajaran tertentu, harus bagaimana lagi?

Sebelum masuk ke topik tersebut lebih dalam, saya akan sedikit bercerita kisah nyata saya, yang awalnya mata pelajaran fisika adalah mata pelajaran yang paling tidak saya sukai diantara pelajaran IPA (Kimia, Fisika, Biologi) justru menjadi mata pelajaran yang punya pengaruh untuk karir saya di masa depan.

Kisah ini diawali semasa zaman sekolah, ketika ada penjurusan untuk yang memilih jurusan IPA,IPS dan Bahasa. Saya memilih program IPA karena saya merasa lebih mudah mengerjakan soal eksak daripada hafalan. Waktu berlalu dan diantara semua mata pelajaran IPA, nilai fisika saya yang paling buruk. Terkadang remedi terkadang rata-rata. Yang pasti, saya tidak pernah mendapat nilai diatas 80. Mendengarkan mata pelajaran fisika semakin membosankan tidak paham konsep, rumus rumit, kesulitan mengerjakan soal yang membutuhkan tingkat berpikir analisis ditambah dengan perhitungan yang rumit.

Suatu hari guru fisika saya izin beberapa bulan karena ada suatu keperluan dan kemudian digantikan oleh guru pengganti. Guru tersebut sangat muda, standar anak kuliah. Tapi, justru karena beliaulah saya memilih jurusan fisika di universitas. Karena beliau, saya termotivasi belajar fisika lebih dalam lagi.

Ya, motivasi pribadi. Inilah kunci dimana saya yang awalnya tidak menyukai mata pelajaran fisika menjadi menikmati belajar fisika dan memantapkan hati memilih jurusan fisika di universitas. Hal ini karena dalam belajar itu sebetulnya sangat dipengaruhi bagaimana kita memandang esensi dari pelajaran itu sendiri. Kalau misalnya dari kita sendiri sudah memandang bahwa pengetahuan di mata pelajaran tertentu merupakan pengetahuan yang harus kita hafal demi mendapatkan nilai ujian yang baik, maka hal itu akan semakin membebani kita.

Ketika kita terlalu fokus menghafal informasi yang ada di buku teks, kesempatan kita untuk
mengeksplorasi informasi yang lebih luas menjadi terkendala. Karena fisika bukan hanya yang ada di buku teks. Fisika itu sangat luas. Semakin kaya sumber informasi kita terkait pengetahuan tersebut, maka semakin komprehensif juga pemahaman kita. Apalagi saat ini pemerintah sedang meningkatkan budaya baca dan literasi masyarakat Indonesia. Nah, kalau pemahaman kita sudah
komprehensif, kita tidak perlu menghafal lagi. Kita akan hafal dengan sendirinya karena
sudah familiar dengan pengetahuan tersebut.

Dalam memotivasi pribadi, kita juga bisa merubah mindset bahwa suatu saat pasti ada manfaatnya di masa depan. Terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhi kesukaan/ketidaksukaan kita terhadap pelajaran tertentu, sebetulnya ilmu pengetahuan itu saling berkaitan satu sama lain. Jadi, ketika kita tidak suka pada satu cabang ilmu pengetahuan, akan mempersempit kesempatan kita untuk mengetahui informasi lain. Jadi, sebetulnya rugi/sayang sekali kalo kita sekarang bisa suka sama pelajaran matematika tapi benci dengan mata pelajaran fisika. Tidak ada ruginya kok kalau kita mendalami banyak mata pelajaran, terutama ketika kita masih duduk di bangku SMA, di mana dasar-dasar ilmu pengetahuan kita bisa pelajari.

Apalagi kedepan, semakin berkembang juga cabang-cabang ilmu pengetahuan yang dihasilkan dari integrasi disiplin ilmu-ilmu lain. Ingatlah bahwa mungkin, separuh mimpi kita bersembunyi di balik mata pelajaran yang tidak pernah kita hargai dan tidak kita sukai, karena percayalah semua proses yang kita lalui saat ini pasti punya pengaruh untuk karir kita di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *